Aliansi Voices for Just Climate Action/Suara untuk Aksi Berkeadilan (VCA) membawa suara-suara lokal yang mewakili perempuan, pemuda, masyarakat adat, miskin perkotaan, aktivis digital dan kelompok rentan lainnya ke ranah nasional dan global dengan menghubungkan beragam organisasi masyarakat sipil, key opinion leaders, akademisi, media massa dan kelompok strategis lainnya. Aliansi VCA di Indonesia terbentuk sejak tahun 2021 terdiri dari 38 organisasi di Indonesia yang bertujuan untuk menyuarakan berbagai solusi iklim di tingkat lokal dalam merespons krisis iklim yang tengah terjadi. Melalui pendekatan keadilan iklim, inovasi, dan kerja-kerja jaringan koalisi yang kuat, aliansi VCA Indonesia berupaya memastikan masyarakat marjinal akan mampu beradaptasi dengan krisis iklim secara berkelanjutan. Upaya ini terutama dengan memberikan dukungan dan kapasitas kepada kepemimpinan masyarakat lokal, partisipasi penuh dan bermakna guna membangun ketahanan masyarakat atas dampak perubahan iklim secara berkesinambungan.
Tujuan Strategis
Pada tahun 2025, kelompok masyarakat sipil di tingkat lokal dan nasional termasuk pelaku iklim diakui dan didukung sebagai inovator, fasilitator, dan mitra pemerintah strategis dalam merealisasikan transisi berkeadilan yang inklusif, efektif, dan berkelanjutan.
1
2
3
Alam tahu cara berterima kasih padamu. Alam juga tahu cara membuatmu binasa. Maka rawatlah alam!
Hendrikus Suban Kolah
Nelayan memiliki kapal
Di koalisi KOPI kita berproses untuk pengembangan diri, ide, gagasan, serta gerakan orang muda di lingkungan bermasyarakat
Agustinus Supardi Pagarian
Lainnya : Seniman, Wirausaha
Terima kasih atas bimbingan YAPEKA dari Koalisi Adaptasi VCA, meningkatkan motivasi dan kesadaran masyarakat hadapi perubahan iklim bersama.
Oni Hatsyar Fanggi
Lainnya : Anggota Pengurus Pemuda Gereja GMIT Danobau Sanama Desa Fuafuni
Koalisi Adaptasi memperkuat kapasitas lokal dan solusi iklim berkelanjutan berbasis kearifan lokal Rote Ndao.
Robiyanto P. Tolla
PNS / ASN / Honorer
Ditempa berkali kali, bertumbuh subur dan semoga berbuah baik. Umur panjang
Magdalena Valeria Afriani Rahmat
Lainnya : Pegiat Komunitas, aktor teater
Saya menemukan banyak inspirasi dari berbagai komunitas di Koalisi KOPI untuk mengembangkan diri dan komunitas melalui program-program yang dilaksanakan.
Wigbertus Goa Panda
Lainnya : Pegiat Komunitas
Alam telah memberi kita makan, udara segar dan air yang melimpah. Mari kita sama-sama menjaganya
Yovita C Pagu
Wirausaha (UMKM)
Manfaat dari bergabung dengan Majelis Nelayan Kota Kupang luar biasa, kita dibekali pemahaman, pertemuan, dan diskusi yang membahas kebutuhan nelayan
Muhammad Mansur Dokeng
Nelayan memiliki kapal
Pembukaan Muro awal 2025 mengejutkan dengan hasil ikan melimpah. Cerita orangtua tentang kejayaan masa lalu terbukti nyata. Seperti hidup di era 1970-an, masyarakat kembali merasakan berlimpahnya tangkapan. Praktik Muro terbukti berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat dan masa depan.
Petrus Pito Maing
PNS / ASN / Honorer
Pemkab Sumba Timur bersama dengan DLH memasukkan Masyarakat Hukum Adat dalam Panduan RPJPD dan mendorong payung hukum perlindungannya. Dua desa dampingan Koalisi Adaptasi, Mondu dan Mundut, telah didaftarkan dalam ProKlim dan kini menunggu proses persetujuan.
Triawan Umbu Uli Mehakati
Pegiat Masyarakat Sipil (NGO / CSO / LSM)
Maksimilian K. Labut mulai tertarik belajar tentang pertanian sejak 2022. Ia mengamati dampak perubahan iklim di desanya: gagal panen dan peningkatan hama serta penyakit tanaman. Lian berinisiatif menjalankan pertanian hortikultura setelah mengikuti sekolah lapang pertanian cerdas iklim. Kini Lian mampu menggerakkan petani lain di desanya untuk menjalankan praktik pertanian berkelanjutan.
Maksimilian K Labut
Petani dengan lahan
Andika bersama Komunitas GEBETAN menanam sorgum di lahan kering dan berbatu sebagai bentuk pelestarian pangan lokal yang adaptif terhadap perubahan iklim. Dalam rangka konservasi mata air, GEBETAN juga melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat, tokoh adat dan para pemilik lahan untuk bersama-sama melakukan konservasi mata air Kmelafai dengan menanam bambu.
Hendrikus Bua Kilok
Petani penggarap
Desa Holulai memisahkan terkait aturan Hohorok/Papadak yang mengatur tentang pernikahan, kehidupan sosial dengan isu tentang lingkungan. Local champion dan pemerintah desa menginisiasi penghijauan lahan tidur dengan bantuan pengadaan bibit dari Dinas Pertanian.
Balsasar Darius Mboeik
PNS / ASN / Honorer
Yovita C. Pagu menjalankan pengembangan pangan lokal bersama Kelompok Wanita Tani Gejur Cama di Desa Rai, Manggarai. Yovita berkolaborasi dengan "ende-ende" atau mama-mama untuk menghidupkan kembali praktik pertanian tradisional yang ramah lingkungan dengan menanam kacang tanah, jagung, dan singkong.
Yovita Capsariani Pagu
Wirausaha (UMKM)
Dikenal akrab dengan Shindy Soge, ia adalah petani dan pegiat pangan lokal di Flores Timur, NTT. Mantan guru Matematika SMA ini aktif menyuarakan isu perubahan iklim, khususnya di bidang pangan. Shindy aktif mengkampanyekan potensi pangan lokal sebagai solusi iklim. Shindy memobilisasi orang muda dan perempuan untuk bergerak bersama
Maria Mone Soge
Petani dengan lahan










